[ info ] Gerhana Matahari Total

Tahun 2009 tercatat ada dua gerhana yang akan melewati Indonesia , yaitu pada tanggal 26 Januari dan 21-22 Juli, sementara itu, gerhana matahari akan kembali menyenggol kita pada tanggal 15 Januari 2010.

Fenomena ini sangat disayangkan untuk dilewatkan, karena gerhana matahari baru akan menyapa kita kembali pada tahun 2016.

Gerhana 26 Januari 2009

Yang paling spesial dari ketiganya adalah Gerhana pada tanggal 26 Januari yang jatuh pas di hari libur Imlek. Gerhana ini dapat dilihat oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia (Dari Banda Aceh sampai Ambon), beruntunglah mereka yang tinggal di daerah Lampung, Samarinda, dan Teluk betung, karena bulan menutup hampir seluruh bagian matahari. Gerhana ini terjadi pada waktu sore hari sekitaran pukul 3 - 4.
Berikut gambar-gambar mengenai Gerhana ini:

Yang perlu diperhatikan dari jenis gerhana ini adalah jenis gerhana ini adalah gerhana matahari anular (bukan total) artinya ukuran bulan tidak cukup besar untuk menutupi seluruh priringan matahari berbeda dengan gerhana matahari total dimana bulan menutupi seluruh piringan matahari. Jadi, untuk melihatnya, perlu digunakan lensa pelindung mata, serta bagi fotografer, ingat untuk melindungi lensa kameranya sebelum mengabadikan fenomena langka ini.

smg,111109



[ Doa ] Bagi anak-anak

Ya Bapa,Semoga anak-anak seraya betambah besar, juga semakin menghargai serta berterimakasih kepada orang tua mereka;
bagi para kakek dan nenek, semoga di usia senja mereka dibantu dan disayangi oleh anak cucu mereka.
Marilah Berdoa

salatiga, 28 Dec 08 -St paulus miki

[ artikel ] Kurir Pembawa Hadiah Tuhan

Kurir Pembawa Hadiah Tuhan
Oleh: Gede Prama


Bila diberi kesempatan untuk memilih, jarang sekali orang yang memilih untuk punya musuh. Entah itu orang biasa atau orang luar biasa, di desa atau di kota, orang berhasil maupun orang gagal, tua maupun muda, amat dan teramat jarang - kalau tidak mau dikatakan tidak ada - orang yang meniatkan diri untuk memiliki musuh. Hampir semuanya menghendaki kehidupan tanpa musuh. Sayapun dulunya juga demikian. Sebut saja Dalai Lama sebagai salah seorang pemenang hadiah nobel perdamaian yang amat terkenal dengan senyuman dan kesejukan hidupnya, ia memiliki musuh negeri Cina yang masih menduduki Tibet. Mahatma Gandhi yang dikenang sejarah dengan perjuangan di jalan antikekerasan, malah mengakhiri hidupnya dengan cara ditembak orang. John Lennon juga serupa, lagu Imagine yang ia nyanyikan dan menyentuh banyak kalbu manusia karena
demikian bersahabat, tubuhnya juga diakhiri oleh peluru panas. Ibu Theresa yang menghabiskan sebagian besar hidupnya hanya untuk melayani orang-orang miskin di Calcutta, pernah disebut orang dengan sebutan seorang diktator ide. Demikian juga kehidupan Lady Diana yang berakhir tragis melalui sebuah kecelakaan karena dikejar-kejar orang.


Kalau orang-orang dengan kualitas dan kualifikasi demikian mengagumkan saja tetap ditakdirkan harus memiliki musuh selama hidup, apa lagi kita manusia-manusia biasa. Yang jelas, musuh adalah sebuah kenyataan yang harus diterima oleh siapa saja yang masih bernafas. Bahkan manusia matipun, banyak yang masih menyisakan musuh. Secara jujur harus diakui, kita semua tidak menyukai musuh. Secara lebih khusus, karena musuh menghadirkan godaan-godaan yang tidak kecil. Musuh memancing kita untuk tidak sabar. Musuh membuat kita tidak bisa tidur. Musuh memproduksi manusia menjadi stress. Bahkan tidak jarang terjadi, musuh membuka pintu-pintu kehidupan yang berbahaya seperti pembunuhan, penganiayaan dan pemerkosaan. Dan seberapa bahayapun kehadiran musuh, kita manusia tidak diberi pilihan lain kecuali harus menerimanya sebagai sebuah kenyataan hidup.Boleh saja ada yang berpendapat lain, namun satu spirit dengan tokoh-tokoh pencinta kedamaian hidup seperti Dalai Lama, musuh sebenarnya juga menghadirkan fungsi-fungsi positif yang kontributif.


Dengan sedikit kejernihan saya ingin bertutur ke Anda, musuh sebenarnya pembawa-pembawa hadiah (kurir) yang diutus Tuhan. Ia diutus untuk membawakan banyak hadiah-hadiah kehidupan yang teramat berguna. Siapa saja yang membenci musuh secara amat berlebihan, apa lagi memutuskan untuk tidak bertemu musuh sama sekali, ia tidak akan pernah bisa menerima hadiah-hadiah amat berguna yang sengaja dikirim Tuhan khusus untuk kita. Sebutlah hadiah yang bernama kesabaran dan kearifan hidup. Keduanya secara amat meyakinkan dikirim Tuhan melalui tangan-tangan musuh. Dengan menemui musuh, awalnya banyak manusia memang harus mengurut-urut dada tanda mengeluh. Namun begitu dibiasakan, tidak saja kegiatan mengurut dada yang berkurang, tetapi kesabaran dan kearifanpun menjadi milik kita. Demikian juga dengan hadiah yang bernama keberanian. Siapa saja yang takut bertemu musuh, pada saat yang sama sedang memproduksi diri jadi seorang penakut dan pengecut. Alasan-alasan hidup tenang dan damai dengan cara tidak bertemu musuh bisa saja diterima, namun jangan pernah lupa, musuh membawa kekuatan-kekuatan dari dalam (inner strength) yang hanya bisa dimiliki oleh siapa saja yang berani menghadapinya.

Hadiah Tuhan yang lain yang dibawa secara amat rajin oleh musuh adalah kedewasaan dan kematangan pribadi. Dulunya saya sering mengeluh kenapa dipertemukan dengan musuh-musuh yang demikian kejam dan arogan. Namun, kesediaan untuk senantiasa maju dan bertemu mereka, menghadiahkan sejumlah kedewasaan dan kematangan pribadi. Kualitas kematangan yang idak pernah bisa diberikan oleh sekolah saya baik yang di Inggris maupun yang di Prancis. Dan hadiah terpenting yang kerap dibawa musuh adalah kualitas peace of mind. Awalnya, kehadiran musuh memang mengganggu kedamaian hidup. Namun begitu tubuh dan jiwa ini dibiasakan untuk selalu bertemu penuh ketenangan dengan musuh-musuh, ada serangkaian kualitas kedamaian yang perlahan datang.


Kemarahan dan kebencian yang selalu mengikuti siapa saja yang malas bertemu musuh, dengan sedikit ketenangan bisa mengusir kemarahan dan kebencian. Lebih dalam dari sekadar kemampuan mengusir kebencian dan kemarahan, frekuensi bertemu musuh yang cukup sering membuat kita sampai pada kualitas 'pemahaman' tentang kedamaian yang amat dan teramat mendalam. Rupanya, kedamaian yang lebih abadi bersembunyi dalam pemahaman yang kaya pembanding. Dan musuh, menghadirkan pembanding hidup yang amat mengagumkan. Saya amat dan teramat beruntung pernah bertemu musuh yang sangat kejam dan arogan.Ibarat film yang diputar-utar setiaphari, Demikianlah memori saya menghadirkan pembanding kehidupan yang menjadi bahan pemahaman kedamaian yang lebih abadi. Tanpa pernah bertemu musuh yang kejam dan arogan dan merasakan bagaimana tidak enaknya diperlakukan demikian, bisa jadi telah lama saya menjadi manusia angkuh dan sombong.


Bercermin dari sini, kalau dulu saya menakuti musuh, sekarang saya sedang mendidik diri untuk tanpa ragu bertemu musuh-musuh. Sebab, ia adalah kurir pembawa hadiah-hadiah mengagumkan yang dikirim Tuhan kepada kita. Punyakah Anda keberanian untuk itu ?


__._,_.___

__,_._,___

Selalu Ada Jalan, Bukan Jalur Pintas

Selalu Ada Jalan, Bukan Jalur Pintas

Ajakan provokatif dilontarkan pengusaha kawakan, Bob Sadino, kepada para mahasiswa yang memadati sebuah forum di Universitas Indonesia, pekan lalu. "Siapa saja yang ingin menjadi entrepreneur, keluarlah dari kampus setelah acara ini dan jangan kembali ke sini lagi," ujarnya.

Pengusaha yang sukses mengembangkan agrobisnis dan kini membangun apartemen itu adalah jebolan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Bob(75) sempat menjadi sopir taksi dan kuli bangunan sebelum mengawali karier kewirausahaan dengan berdagang telur.

Provokasi Bob "diimbangi" oleh Wahyu Saidi. Ia memperkenalkan diri sebagai "tukang bakmi" yang mendapat gelar Dr, Ir dan MSc dari Institut Teknologi Bandung dan dari Universitas Negeri Jakarta.

"Untuk memulai entrepreneurship, gelar kesarjanaan benar-benar tak berguna, justru sering negatif. Begitu mau menyebar brosur atau nggoreng makanan ngerasa diri sarjana. Itu bisa menjadi awal kegagalan," ujar Wahyu, yang membuka 410 gerai makanan di 30 kota dan 4 negara.

Menurut Wahyu, ilmu yang didapat dibangku kuliah baru berguna jika bisnis sudah berkembang. Misanya, terkait tuntutan penguasaan manajemen, mekanisme kontrol, dan distribusi. Namun, tidak bersekolah juga bukan berarti tidak bisa belajar menguasai ilmu-ilmu ini.

Dalam forum diskusi "Entrepreneurship Experiencing 2008", Bob dan Wahyu mambagi pengalaman mereka kepada para mahasiswa. Selain berdiskusi, dalam kegiatan dua hari itu juga diberikan simulasi bisnis. Para peserta dipinjami modal kerja dan produk, lalu diminta berinovasi untuk mengembalikan modal itu dan mendapat untung.

Para peserta juga difasilitasi magang di perusahaan kecli-menengah dan perusahaan besar selama sebulan. Pusat Pelayanan Mahasiswa FISIP UI yang menyelenggarakan kegiatan ini juga bekerja sama dengan Pelindo II untuk memberi kredit bag calon pelaku bisnis.

Kredit Rp 5 juta-Rp 100 juta dengan bunga 6 persen per tahun itu ditawarkan kepada peserta yang sudah memiliki usaha minimal setahun.

Jangan ditunda

Beragam pertanyaan dan unek-unek disampaikan para mahasiswa dalam diskusi itu. Indah, mahasiswa Diploma Pajak UI angkatan 2006, menceritakan, ia mulai menjajakan makanan kecil dikampus pada satu semester terakhir. Namun, ia masih berharap menjadi pegawai, sebelum merasa siap total berbisnis.

Tak sedikit pula yang mengeluh sulit meyakinkan orangtua untuk merestui anaknya berbisnis sendiri, tidak menjadi pegawai atau karyawan.

"kalau mau jadi entrepreneur, mulailah dari sekarang. Jangan berencana mulai setelah lulus kuliah. Apalagi, kalau anda berusaha lulus dengan indeks prestasi tinggi, besar kemungkinan muncul harapan dan iming-iming untuk jadi pegawai," ujar Wahyu.

Menurut Bob, sikap mental yang menjadi prasyarat utama menjadi pengusaha adalah tidak banyak berharap, menghilangkan rasa takut, dan mengubah pola pikir. "Harus punya kemampuan dan tekad kuat mengubah diri anda, dari bagaimanapun adanya sekarang. Tekad yang kuat itu tidak cukup kalau tak ada keberanian mengambil peluang. Namun, anda baru jadi entrepreneur kalau sudah terbukti tahan banting dan tidak cengeng," paparnya.

Mendengar pertanyaan, komentar, dan keluhan para mahasiswa, Bob menilai, sangat kuat keinginan para mahasiswa untuk menemukan metode paling cepat, atau jalan pintas, agar sukses berbisnis.

Padahal, pengalaman bisnis puluhan tahun mengajarkan, tidak ada jalan pintas untuk mendapat untung besar. "Kecuali anda jadi koruptor, maling, atau jualan sabu."

Pada usia senja, kesediaan Bob berkampanye mengajak mahasiswa menerjuni dunia kewirausahaan dilatari keprihatinan mendalam. Ia mengingatkan, jumlah pengusaha di negeri ini hanya 0,18 persen dari total penduduk. Padahal, di negeri sekecil Singapura, jumlah pengusahanya 7,2 persen dan perekonomiannya maju pesat. Sebaliknya, dengan segala sumber kekayaan alam Indonesia, penduduk negeri ini masih dijerat kemiskinan.

Para pengajar di sekolah formal turut andil "melemahkan" semangat kewirausahaan. "Saya pernah menyuruh anak saya yang masih SD berjualan mainan ke temen-temennya di sekolah. Eh, malah dilarang guru. Dari kecil, disekolah, anak-anak dididik untuk membeli bukan menjual," ujar Wahyu.

Kompas, kamis 13 nov 2008

Catatan kaki:

tidak semua orang punya bakat menjadi pengusaha / entrepreneur. Namun bisa digali bakat tersebut dilatih sejak dini. Dan jadilah diri sendiri untuk orang lain disekitar kita.

Komentar anda kami tunggu pada support@e-jogjaonline.com

[ Renungan ] Jangan heran

Dalam khasanah kebijaksanaan Jawa, ada petuah yang berkata demikian: Ojo gumunan, ojo kagetan, mulad sarira, hangrasa wani. Artinya:
Jangan mudah heran, jangan mudah terkejut, beranilah melihat dan mengoreksi diri apa adanya. Bagi orang Jawa, selain kesadaran diri,
kemampuan untuk menguasai diri sehingga tidak mudah dikejutkan dan dibuat terpesona adalah nilai-nilai diri yang unggul. Apabila mudah
bingung dan terpesona, orang mudah kehilangan orientasi diri. Itu sebabnya, ketenangan batin menjadi kunci.


http://inacraft-asia.blogspot.com
http://ina-media.blogspot.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes