PRPP Jawa tengah

SEJARAH

AWAL MULA

Pusat Rekeasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah, semula berawal dari Pekan Raya Semarang (PRS) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang pada tahun 1970. Kegiatan ini bertujuan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pekan Raya Semarang pada awalnya diselenggarakan dengan menyajikan hiburan kepada masyarakat sekaligus sebagai ajang memamerkan produk-produk pembangunan daerah maupun kalangan swasta. Kegiatan tersebut dipusatkan di Taman Hiburan Rakyat (THR) Tegal Wareng Semarang (saat ini berubah menjadi Taman Budaya Raden Saleh/TBRS).
Pameran dilaksanakan oleh Panitia yang dibentuk Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Semarang dengan mengikutsertakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Daerah Kotamadya Semarang.

Dalam perjalanan waktu, karena Pekan Raya Semarang pengunjungnya tidak saja berasal dari kota Semarang, tetapi meluas sampai wilayah di luar semarang, kesempatan ini kemudian dimanfaatkan oleh kalangan pengusaha, baik besar maupun kecil, terutama para pengrajin untuk memperkenalkan dan memasarkan hasil produknya.
PRPP

Selanjutnya nama Pekan Raya Semarang mulai awal tahun 1980-an diubah menjadi Pekan Raya dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah. Penyelenggaraan event PRPP, dilaksanakan oleh Panitia yang dibentuk Gubernur Jawa Tengah, beranggotakan unsur Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, pemerintah Kotamadya Semarang dan Kamar Dagang dan Industri Jawa Tengah.
Event PRPP ini diadakan masih dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Waktu pelaksanaan pameran kurang lebih 45 (empat puluh lima) hari.

Sejak tahun 1985 karena penyelenggaraan Pekan Raya dan Promosi Pembangunan Jawa Tengah dipandang mempunyai potensi sebagai sarana promosi pembangunan Jawa Tengah dan promosi di bidang usaha perdagangan, perindustrian/kerajinan rakyat serta usaha di bidang kepariwisataan maka dibentuk Yayasan Pekan Raya dan Promosi Pembangunan Jawa Tengah sebagai pelaksanaan kegiatan.
Pembentukan Yayasan berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Tengah tanggal 1 Januari 1985 Nomor : 510.1/02439. Keputusan tersebut disempurnakan kembali dengan diterbitkan Keputusan tanggal 30 November 1989 Nomor : 510.1/314/1989.

Dengan terbentuknya Yayasan PRPP, maka kegiatan pameran dipindahkan dari TBRS ke kawasan Tawang Mas Semarang, pada tahun 1986. Pameran yang diselenggarakan masih menggunakan nama Pekan Raya dan Promosi Pembangunan (PRPP) Jawa Tengah.
Sesuai dengan Perda Nomor 9 tahun 1993 diputuskan bahwa pengelola PRPP tidak dapat menggunakan badan hukum Yayasan, tetapi harus berbentuk Perseroan Terbatas. Pada tanggal 7 Maret 1995 dibuat Akta Notaris Perseroan Terbatas PT. Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan Jawa Tengah disingkat PT. PRPP Jawa Tengah.

Layanan Kami

Areal PRPP meliputi luas 46,5 Ha yang secara keseluruhan diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

* PRPP (seluas 22 ha)
* Puri Maerokoco Taman Wisata Budaya Jawa Tengah (seluas 24,5 ha)
* Prasarana Jalan dan Parkir

Dengan tempat yang luas, dan dukungan dari staff kami yang prima, layanan yang kami berikan adalah sebagai berikut :

* Event-event pameran baik skala daerah, nasional ataupun internasional
* Acara penting perusahaan (perayaan)
* Resepsi Perkawinan
* Taman Rekreasi Keluarga

[ artikel ] TIPS DALAM MENGHADAPI KOMPLAIN CUSTOMER

TIPS DALAM MENGHADAPI KOMPLAIN CUSTOMER

Ada beberapa tips yang barangkali berguna dalam menghadapi komplain customer :

* Sikap. Bersikap terbuka dan menerima, customer merupakan prioritas utama dalam usaha kita, jauhkan sikap defensif dan keras kepala!!
* Positive thinking. Komplain adalah masukan informasi yang sangat berharga yang menunjukkan kekurangan yang sebelumnya kita tidak ketahui ; komplain menunjukkan kalau customer peduli dengan kualitas dan performa barang yang kita jual.
* Komplain pelanggan sebisa mungkin digali secara mendalam sampai ke akar permasalahan sehingga kita bisa memperoleh gambaran menyeluruh tentang masalah yang dihadapi oleh konsumen dan bisa menemukan solusi terbaik bagi masalah mereka.
* Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, kita harus bersedia untuk mendengar, bertanya tanpa melibatkan emosi, dan berusaha memberikan win-win solution
* Menepati janji atas solusi yang kita berikan dan sampaikan kepada customer sebelumnya dan memberitahukan progress penanganan komplain secara berkala

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan juga :

1. Jujur mengatakan problem yang ada.
2. Memberikan estimasi pekerjaan bisa selesai.
3. Memberitahukan ke customer jika waktu penyelesaian akan meleset.
4. Jangan memberikan komitment yang over
5. Tetap senyum dan banyak mendengarkan.
6. Jangan membandingkan produk dengan kompetitor baik pelayanan maupun kualitas barang

Sumber :
http://arinday-arinday.blogspot.com/2008/06/tips-dalam-menghadapi-komplain-customer.html

[ Artikel ]Pertanda Apakah Kejemuan Terhadap Pekerjaan Itu?

Artikel: Pertanda Apakah Kejemuan Terhadap Pekerjaan Itu?

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Jika tidak pernah merasa jemu dalam pekerjaan, mungkin kita belum cukup lama menjalaninya. Sebab, agak aneh juga jika hal-hal rutin yang kita lakukan dalam jangka panjang masih bersifat 'biasa-biasa' saja. Bukahkah kita merasa jemu jika hidup kita menjadi datar? Sebaliknya, 'percikan-percikan' kecil bisa memberi nuansa yang lebih berwarna bagi perjalanan karir kita. Jadi, jika suatu saat kelak menemui kejemuan; tidak perlu terlalu risau. Karena sesungguhnya hal itu merupakan pertanda yang mengirim sinyal supaya kita mendefinisikan ulang premis-premis hidup yang selama ini dipegang teguh.

Kadang-kadang kita keliru mengartikan kejemuan sebagai sinyal untuk berpindah. Sehingga kalau kita merasa jemu, hal pertama yang terpikirkan adalah; bagaimana menemukan pekerjaan baru? Padahal, dalam banyak situasi kita tidak benar-benar pindah kepada pekerjaan yang sungguh-sungguh baru. Melainkan sekedar kepada 'tempat' baru. Faktanya, kita pindah ke perusahaan lain untuk mengerjakan pekerjaan yang sama. Jika saya orang marketing di perusahaan A, saya pindah ke perusahaan B dengan fungsi sebagai tenaga marketing juga. Sebagai engineer handal diperusahaan C, saya pindah ke perusahaan D untuk menjadi engineer juga. Akuntan, pindah tempat untuk menjadi akuntan juga. Dan sebagainya. Hanya sedikit perusahaan yang mau menerima kita untuk melakukan sesuatu yang benar-benar 'baru' sehingga kita bisa mulai lagi dari nol besar.

Padahal tidak semua kejemuan terhadap pekerjaan bisa diobati dengan perpindahan. Boleh jadi yang sesungguhnya kita butuhkan adalah menantang diri sendiri untuk berkreasi. Membuat sesuatu yang baru dengan tugas kita sehari-hari. Sebut saja itu sebagai 'perpindahan micro', yaitu perpindahan dari mengerjakan sesuatu sebatas rutinitas menjadi 'tempat melahirkan' gagasan-gagasan baru. Dengan begitu, kita selalu memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk 'melakukan hal-hal baru'. Sebab, hal baru bisa menjadi jawaban atas kejemuan. Dan lebih dari itu perusahaan tempat kita bekerja pun mendapatkan kegembiraan yang tiada tara. Sebab, ketika anda berubah dari karyawan yang tengah dilanda oleh kejemuan menjadi karyawan yang haus untuk melahirkan inovasi demi inovasi; maka perusahaan itu menjadi semakin tidak tertandingi. Bayangkan, jika semua karyawan diperusahaan menjadi seperti itu? Tidak terhingga dampak positif yang ditimbulkannya bukan?

Sekarang bayangkan lagi; jika anda bisa menjadi motor penggerak inovasi diperusahaan seperti itu. Kira-kira keuntungan apa yang bisa anda dapatkan? Pertama, anda terbebas dari kejemuan itu. Kedua, anda bisa menjadi role model bagi orang-orang yang anda pimpin dan rekan-rekan lain. Ketiga, anda bisa menjadi pilihan utama jika perusahaan harus memilih seseorang untuk diberi tanggungjawab yang lebih besar. Keempat, perusahaan tidak akan membiarkan anda pergi begitu saja. Kelima, halah banyak sekali keuntungan yang anda bisa dapat itu rupanya?

Sebaliknya, jika anda memilih untuk menjadi karyawan yang membiarkan diri terpenjara oleh kejemuan itu. Cepat atau lambat, kinerja anda akan menurun. Sehingga para pendatang baru akan mengambil alih pamor yang selama ini anda miliki. Dan ketika itu terjadi, sangat logis jika perusahaan menganggap anda sebagai masa lalu.

Jadi, situasi mana yang anda pilih?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangka darusman. com/
Managing Partner & Learning Facilitator IFSHA Strategic

Catatan Kaki:
Ingatlah ketika pertama kali kita mendapatkan pekerjaan itu. Kita begitu bersemangat. Sehingga setiap hari, kita tidak sabar untuk segera masuk ke kantor.

Jika Anda membutuhkan Artikel Gratis untuk Mading kantor silakan
hubungi kami japri dengan subjek "Artikel Mading" ke dkadarusman@ yahoo.com

Jika ingin mengundang Dadang Kadarusman untuk In-House Program di perusahaan Anda, silakan kirim email ke invite@dadangkadaru sman.com

[ Artikel ] Bagaimana Mungkin Carrefour Bisa Memberi Diskon 90%?

Beberapa waktu lalu beberapa surat kabar nasional mewawancarai beberapa nara
sumber terkait iklan dari Carrefour yang memberi diskon 90% di libur panjang
Pemilu lalu. Tidak hanya Carrefour sebenarnya yang melakukan promosi
besar-besaran menyambut libur panjang Pemilu lalu namun hanya Carrefour yang
paling mengundang perbincangan.

Di dalam tulisan hasil wawancara di Kompas seorang nara sumber mengatakan
seolah-olah Carrefour mampu melakukan itu karena kemampuannya menekan
supplier (pemasok) melalui trading term. Juga mengatakan bahwa KPPU harus
menyelidiki dan berbagai komentar lain yang menuduh bahwa Carrefour telah
melakukan tindakan salah.

Saya ingin menyampaikan pandangan saya selaku praktisi dan konsultan yang
tahu bagaimana seluk beluk sebuah bisnis ritel dikelola.
Pertama, yang diobral besar-besaran oleh Carrefour adalah barang-barang
dalam kelompok *general merchandise (*non fast moving consumer goods) yang
memiliki margin rata-rata antara *30%-50%*. Itu margin antara rata-rata
berarti ada kelompok barang yang memiliki margin di atas *50%*.

Kedua, yang diobral itu juga sebagian besar adalah barang-barang lama dan
tinggal sisa-sisa yang harus dibersihkan secara berkala karena dengan
berbagai alasan antara lain: model sudah kuno, kondisi barang sudah tidak
terlalu baik, sudah agak lusuh dan ada lecet kecil di sana-sini.

Ketiga, hanya beberapa barang saja yang jumlahnya juga tidak banyak yang
didiskon *90%* sedangkan sebagian besar lagi tidak didiskon 90% melainkan
hanya didiskon 30%-50%. Itu sendiri ditulis di Kompas jadi semua orang juga
bisa menghitung bahwa tidak semua barang didiskon 90%.

Itu hanya sedikit alasan kenapa diskon itu mungkin dilakukan tanpa harus
merugi. Nah berikut saya akan ulas secara lebih detil untuk menunjukkan
contoh mengapa Carrefour bisa melakukan itu. Tetapi sebelum terlampau jauh,
saya harus katakan bahwa ini bukan teknologi dari Carrefour saja. Ini hanya
hitungan matematis terapan yang bisa diterapkan peritel manapun.

Perhatikan tabel di paling atas tulisan ini.

Contoh dalam tabel di atas. Jika sebuah peritel membeli barang sebanyak
5.000 buah dengan harga pokok pembelian (HPP) Rp 1.000,-. Jika peritel ingin
mendapatkan margin sebesar 40% maka dia harus menjual Rp 1.666,67.

Nah, barang tersebut belum tentu sukses dijual dengan harga yang diinginkan
oleh peritel bukan? Katakanlah ternyata barang tadi hanya mampu dijual
dengan harga normal sebanyak 70% nya saja berarti hanya terjual sebanyak
3.500 buah dengan harga Rp 1.666,67.

Sedangkan sisanya yang 1.500 buah pada waktu yang sudah ditentukan, misalkan
6 bulan, sudah dianggap ketinggalan jaman sehingga daripada hanya memenuhi
rak dan menjadi uang mati maka lebih baik dilakukan *clearance sales*. Nah
itulah yang dilakukan oleh Carrefour tadi, contohnya dengan melakukan diskon
besar-besaran. Kalau perlu diskon 90%.

Mari kita kembali lihat tabel di atas. Jika sisa barang sebanyak 30% atau
1.500 buah diobral sampai dengan 90% pun maka peritel harus menjual dengan
harga Rp 166,67. Memang rugi dan memang di bawah harga perolehan.

Sekarang mari lihat hasil akhirnya. Penjualan 70% dari total persediaan awal
ditambah penjualan 30% dari total persediaan yang diobral menghasilkan
penjualan Rp *6.083.333,- *sedangkan modal atau HPP-nya hanya Rp *
5.000.000,-* Itu artinya peritel masih mengalami untung Rp *1.083.333,- *atau
untung sebesar *17.81%*. Memang tidak sebesar yang direncanakan namun juga
tidak rugi. Hanya marginnya saja berkurang.

Jadi, setelah melihat argumentasi di atas ditambah lagi hitungan yang rada
teknis seperti yang saya uraikan di atas, nyata bahwa apa yang dilakukan
oleh Carrefour bukanlah sesuatu yang harus selalu dicurigai sebagai suatu
tindakan yang melanggar kepatutan bisnis apalagi melanggar peraturan. Perlu
juga bagi media untuk mencari nara sumber yang berkompeten agar bisa
mendapatkan pandangan yang berimbang sekaligus mencerdaskan masyarakat dan
pelaku usaha serta tidak menimbulkan keresahan dunia usaha.

Catatan: tulisan ini juga dimuat penulis di blog:
http://guswaiway. blogspot. com

[ Artikel ] carefour komentar

Secara pribadi saya setuju sekali dengan pendapat mr Guswai, dan itu juga merupakan logika perhitungan sederhana.
Yang perlu di perhatikan adalah bukan dari sisi penjualannya. Tapi KPPU benar-benar mengawasi pengaruh real berdirinya carefour dengan usaha kecil yang bersentuhan langsung carefour tersebut setidaknya radius 5 km. Ini bisa dilakukan dengan mudah, misalnya dengan menghitung omset dari usaha tersebut sebelum berdirinya carefour dan sesudahnya.
Sementara itu upaya untuk menekan pihak supplair terjadi karena timpangnya bargaining position satu pihak. Letak pentingnya KPPU ada disini, bagaimana KPPU bisa mengawasi dan menekan satu pihak untuk dapat bersain secara fair akan menunjukkan kegunaan dari lembaga itu sendiri. Pasti dengan kapasitas orang-orang yang ada di KPPU sekarang dapat merumuskan kebijakan yang tepat.
Demikian sedikit tanggapan dari saya,

Syarif

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes